Lizda Meilina

Belum menuliskan informasi profilenya.

Selengkapnya
Penjelajah Sungai Barito

Penjelajah Sungai Barito

Kali ini aku akan menceritakan kenangan masa kecil ketika ikut paman pulang ke kota kelahiran Muara Teweh Kalimantan Tengah. Menceritakan kenangan masa kecil merupakan terapi yang bisa membuat rileks pikiran dan terkadang ingin napak tilas kembali menyusuri perjalanan waktu itu. Namun setidaknya dengan menulis kisah ini akan menjadi dokumen yang bisa dibaca kembali kapan pun.

Aku akan memulainya ketika musim liburan kenaikan ke kelas lima SD tahun 1978. Aku punya seorang paman yang berdomisili di Muara Teweh Kalteng, sedangkan aku dan keluarga berdomisili di Banjarmasin, Kalsel. Tahun 70an sampai 90an transfortasi antar provinsi Kalsel dan Kalteng didominasi oleh transfortasi sungai karena belum ada trans Kalimantan seperti saat ini. Ketika pamanku bersilaturrahmi dengan keluarga di Banjarmasin saat mau pulang beliau mengajak aku untuk ikut ke tempat kelahiranku yaitu Muara Teweh yang lokasinya terletak dipinggir sungai Barito. Usiaku saat itu 10 tahun, liburan kenaikan kelas cukup lama dan abah dan mama mengizinkan aku untuk ikut, kata mereka aku akan belajar mandiri tidak harus selalu dengan kedua orang tua. Awalnya aku bimbang karena berpisah sementara dengan mereka sekitar setengah bulan, tapi kerinduan dengan saudara-saudara sepupuku di sana mengalahkan kebimbangan itu dan setuju untuk ikut paman. Besoknya kami berangkat dari rumah diantar abah, mama dan adik-adikku menuju dermaga Taman Sari daerah Sudimampir dipinggir Sungai Martapura kota Banjarmasin. Rasa sedih...haru... berkecamuk dalam pikiranku saat itu walaupun sebelumnya sudah pernah ikut saat kelas tiga SD tapi aku sudah lupa. Aku dan paman menumpang kapal KM Pancar Mas II di iringi hujan rintik-rintik kapal mulai meninggalkan dermaga. "Bus Air" penjelajah Sungai Barito aku menyebutnya. Perjalanan Banjarmasin - Muara Teweh sekitar dua hari dua malam cukup lama karena melawan arus Biaya perorang saat itu Rp. 8000,- dan anak-anak hanya Rp. 5000 saja. Sedangkan Muara Teweh - Banjarmasin sekitar satu hari satu malam karena mengikuti arus dan biayanya lebih murah.

Saat itu kapal tidak ada fasilitas tempat tidur apalagi televisi namun listrik sudah ada sebagai alas tidur. Aku bawa selimut dan bantalnya adalah tas pakaian sedangkan kamar mandi dan jamban ada di belakang lambung kapal benar-benar tradisional dan indah sekali untuk dikenang.

Perjalanan dari Banjarmasin menuju Muara Teweh melalui dua sungai yaitu Sungai Martapura dan Sungai Barito. Perjalanan dengan rute dari dermaga Banjarmasin terus ke simpang sungai Barito, melewati Ujung Panti, Marabahan, Kuripan masuk daerah sungai di Kalteng daerah Jinamas, Buntok hingga ke tujuan akhir Muara Teweh. Kapal yang kami tumpangi selalu singgah di setiap pos-pos itu untuk penumpang yang naik ataupun yang turun.

Masih jelas dalam ingatan kalau musim libur sekolah jumlah penumpang cukup banyak sampai 50 orang sebenarnya kapasitas penumpang KM Pancar Mas II sekitar 100 lebih.

Perjalanan menjelajahi Barito Sangat mengasikkan perutku lapar melulu kalau mau makan aku berjalan ke buritan kapal, disitu ada yang jual nasi rames ada juga teh dan kopi. Mama memberi bekal aku makanan ringan dan buku cerita yang sesekali aku baca. Saat sore hari aku ikut duduk dihaluan kapal bersama penumpang lain sambil menikmati sejuknya udara disepanjang sungai serta hutan belantara yang masih alami. Merupakan jamrud khatulistiwa. Sesekali terlihat desa-desa kecil dari kejauhan dan rumah terapung banyak terdapat dipinggiran sungai.

Ada gosong sungai yang muncul dipermukaan air yaitu kumpulan sedimen pasir atau kerikil yang telah diendapkan oleh aliran sungai. Banyak pula gelondongan kayu yang dibawa melintas Sungai Barito. Perjalanan sangat mengasyikkan menyusuri badan sungai yang berkelok-kelok (meander).

Dua hari dua malam akhirnya berlalu juga kapal berlabuh di dermaga yang letaknya tidak terlalu jauh dari rumah. Kedatangan aku dan paman disambut oleh keluarga terutama saudara-saudara sepupuku. Walaupun jarak tempat kami cukup jauh akan tetapi kedekatan kekeluargaan tidak diragukan lagi seperti saudara kandung sendiri.

Aku tinggal di rumah paman di jalan Panglima Batur, pamanku seorang pengusaha penginapan keluarga namanya Penginapan Barito. Tamu-tamu penginapan kebanyakan keluarga dengan anak-anaknya yang sudah sangat kenal dengan paman. Disebelah rumah paman adalah rumah peninggalan kakek nenekku dari sebelah ibu tapi sudah dibeli oleh kakak mama dan dijadikan rumah makan yang diberi nama Rumah Makan Barito.

15 hari berlalu begitu cepat banyak yang kulakukan disana, pagi hari sesudah subuh jalan-jalan melihat pemandangan Sungai Barito. Sungai yang indah, mandi disungai pagi dan sore sesudah magrib wajib mengaji dan banyak permainan juga mengunjungi keluarga. Pulang ke Banjarmasin aku diantar kembali oleh paman.

Masa kecil adalah masa yang sangat indah, yang dirasakan banyak senangnya. Insya Allah dilain waktu aku akan menulis pengalaman lainnya. Wassalam.

DISCLAIMER
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.

Komentar

Sumber Foto: Google

18 Mar
Balas

Bergabung bersama komunitas Guru Menulis terbesar di Indonesia!

Menulis artikel, berkomentar, follow user hingga menerbitkan buku

Mendaftar Masuk     Lain Kali